Sejarah Candi Borobudur

Written By faiqah azzahrah on Tuesday, 30 August 2016 | 22:07

Gambar Candi Borobudur
Candi Borobudur adalah mahakarya budaya nusantara yang telah diakui didunia Internasional, sebagaimana pengakuan UNESCO. Candi ini merupakan candi berlatar belakang agama Buddha, salahsatu Agama yang cukup besar di Pulau Jawa pada masanya. Bila melihat letaknya, tentu lokasinya dipilih berdasarkan pertimbangan tertentu.

Secara simbolis, letak Borobudur yang berdekatan dengan pertemuan dua sungai, yaitu Sungai Elo dan Sungai Praga, seolah meniru atau berorientasi ke dua sungai suci di India, Sungai Yamuna dan Sungai Gangga. Di pertemuan kedua sungai tersebut didirikan bangunan-bangunan suci. Selain itu, secara faktual, sungai-sungai besar mengandung batubatu besar sebagai bahan baku pembuatan candi.

Candi Borobudur dibangun sekitar 800 M. Namun, sejak Dinasti Mataram Hindu memindahkan pusat pemerintahannya dari Jawa Tengah ke Jawa Timur sekitar 930 M, tidak ada lagi berita tentang Candi Borobudur. Hanya ada berita singkat termuat dalam kitab Nagarakertagama (1365 M) pupuh 77 tentang nama ”Budur” yang disebut sebagai salah satu tempat suci sekte Vajradhara Buddha. Yang dimaksud dengan ”Budur” mungkin Candi Borobudur.

Dalam kitab Babad Tanah Jawi disebutkan bahwa sekitar tahun 1709 atau 1710 seorang pemberontak bernama Ki Mas Dana bersembunyi di Redi Borobudur (Bukit Borobudur) namun akhirnya tertangkap. Berita lain menuliskan bahwa pada 1757 atau 1758 seorang pangeran dari Jawa mengunjungi 1.000 arca untuk melihat ”bangsawan dalam sangkar”. Yang dimaksud dengan ”bangsawan dalam sangkar” adalah arca Buddha dalam stupa. Sayang, tak berapa lama setelah kunjungan itu, pangeran tersebut meninggal. Mengenai arca Buddha di Borobudur, ada kisah yang menarik. Menurut kepercayaan masyarakat setempat, siapa saja yang berhasil menyentuh salah satu arca Buddha dalam stupa berlubang di deretan paling atas akan mendapatkan nasib baik. Dan sampai sekitar awal abad ke-19 masyarakat Jawa masih membakar kemenyan dan menyediakan sesajian bunga di salah satu arca di deretan teras bulat Candi, yakni arca disebelah kanan tangga timur. Arca tersebut oleh orang Jawa populer disebut Bima.

Borobudur dalam Catatan Riwayat Laporan pertama tentang Candi Borobudur pada abad XIX ditulis saat Thomas Stamford Raffles berkunjung ke Semarang tahun 1814. Ketika itu ia menjabat sebagai Gubernur Jawa (1811-16). Raffles mendengar keberadaan sebuah bangunan candi di Jawa Tengah yang oleh masyarakat setempat disebut Borro-Boedoer.

Kala itu bangunan Candi, yang sudah berupa reruntuhan, dipenuhi pepohonan dan jalan-jalan kecil yang mengelilingi tubuh candi (pradakshina) juga tertutup tanah dan tetumbuhan. Runtuhnya bangunan terutama disebabkan oleh gempa bumi. Pulau Jawa memang termasuk daerah gempa dan lokasi Borobudur juga berdekatan dengan gunung berapi.



Beberapa laporan menyebutkan bahwa gempa bumi terjadi pada 1923, 1924, 1936, 1943, dan 1961. Penyebab lainnya adalah air hujan yang meresap masuk dari celah-celah sambungan batu ke dalam bukit tempat candi didirikan.

Raffles lalu memerintahkan asistennya, insinyur militer bernama HCC Cornelius, untuk membersihkan pepohonan dan batu-batu reruntuhan. Pekerjaan itu dilakukan dari tahun 1817-22 hingga denah bangunan candi akhirnya dapat diketahui. Kemudian pada 1835 Borobudur dibuka untuk umum. Pada pertengahan abad ke-19 dibangun semacam gardu pandang di stupa puncak untuk peristirahatan. Pada 1882 pernah disarankan untuk membongkar seluruh bangunan dan menempatkan relief-reliefnya di salah satu museum, namun usulan itu ditolak.

Tahun 1885 JW Ijzerman menemukan bahwa kaki bangunan candi tertutup dan kemudian diketahui bahwa di kaki yang tertutup tersebut ada 160 panel relief. Dalam kurun 1890-91 kaki yang tertutup dibuka untuk pemotretan oleh K Cephas. Setelah mempertimbangkan kemungkinan runtuhnya bangunan candi, dibentuklah Komite Borobudur pada 1900 dengan Dr JLA Brandes sebagai ketua. Komite ini bertugas menemukan cara yang tepat untuk menyelamatkan bangunan candi. Di antara anggotanya adalah BW van de Kamer dan Th. Van Erp. Awalnya diusulkan untuk menutup Candi Borobudur dengan atap berbentuk piramida guna melindungi bangunan dari hujan. Air hujan yang memasuki celah-celah antar batu menyebabkan tanah bukit di bawah bangunan basah dan jamur tumbuh di permukaan batu candi. Perlu diketahui bahwa curah hujan di Borobudur sekitar 220–300 cm per tahun pada musim hujan. Namun usul tersebut tidak diterima.

Pada 1907-11 restorasi pertama Candi Borobudur dimulai dan dipimpin oleh Th. Van Erp. Restorasi tersebut hanya dilakukan pada teras bundar dengan membongkar seluruh stupa. Pagar langkan kelima juga dibongkar dan di beberapa bagian, relung-relung dibangun kembali. Empat puluh satu ambang relung dan dua puluh empat tangga juga dibangun kembali. Namun banyak batu yang hilang terutama batu berukir. Kalamakara serta kepala arca tidak diganti dengan batu baru karena hal itu melanggar ketentuan, yaitu dianggap memalsukan batu asli. AJ Bernet Kempers menyatakan bahwa, “Monumental architecture and sculpture of the Central Javanese period belong to the past. They should be carefully restored and reconstructed with authentic materials, and replaced in their original sites, but should never be mixed with deceiving corpora alinea” (Bernet Kempers, 1976).

Pengunjung harus tahu bahwa yang mereka lihat adalah bangunan asli. Sikap Van Erp yang berkenaan dengan prinsip-prinsip pemugaran itu akhirnya diikuti oleh yang lain. Salah satu contoh penerapan prinsip tersebut dilakukan saat memugar pinakel stupa puncak. Sebagaimana diketahui ada beberapa batu pinakel yang hilang dan bagian yang hilang tersebut tidak diganti dengan batu baru. Pandangan Van Erp termasuk suatu langkah maju pada masa itu.

Pada 1929 komisi teknik Borobudur membuat laporan secara menyeluruh tentang situasi dan kondisi bangunan Borobudur. Sejak itu usaha-usaha untuk menyelamatkan Candi Borobudur terus dilakukan. Tahun 1948 Dinas Purbakala Indonesia mengundang dua tenaga ahli dari India, yaitu C Sivaramamurti dan KR Srinivasan, untuk meneliti kondisi Borobudur. Hasil penelitianmereka menunjukkan bahwa dinding bangunan menggelembung akibat akumulasi air hujan yang menyebabkan tanah menjadi basah, lembek, dan berubah menjadi lumpur. Setelah mempertimbangkan bahaya yang mengancam keselamatan Borobudur,

Dinas Purbakala mengusulkan cara pemecahannya yaitu membongkar seluruh bangunan dan kemudian memperkuat fondasinya sebelum dibangun kembali. Pemerintah Indonesia meminta bantuan internasional melalui UNESCO.

Sumber : Mahakarya Sendratari Borobudur

Artikel Terkait

0 comments :

Post a Comment

Silahkan berkomentar dengan baik dan sopan, dan tidak usah buang-buang waktu untuk berkomentar yang disertai dengan link hidup sebab komentar anda pasti akan kami hapus. Salam